13 June 2007

DI-MUNIR, DI LABIRINNYA

Daun dedaun tak lagi hijau segar

coklat tua warnanya jalari sluruh kuning muka

Kering, retas dan lapuk

Luruh dan jatuh, melayang, lemas,

mati.

Dedaunan musim gugur nan layu di tanah putih

jemput matimu

tanpa penjelasan hakiki

di atas garuda bersayap hitam misteri

tembus kabut emas

kedok dari kain gombal

Sisakan mahakuatnya kuasa

menggurita

Melilit

Sedot sumsum tulang sampai kering

sisakan mata pincing

cacah curiga

sesak selidik

sarat tipu politik

Merengas darah kering

Makin kilap

Silaukan mata

dari

Tumbuh sehat merdeka bersama.

Yang kau

jaga sedari lahir

kelola selaksa waktu

juangkan sejurus mata

gegapkan

Tembus malam kilatkan terik siang

Hak Azasi Anak-anak Manusia

Dengan handai taulan

dan

Istri

tercinta



Yonathan Rahardjo/ Jakarta, 8 Nopember 2005

Buku Antologi Puisi untuk Munir Nubuat Labirin Luka, Sayap Biru, Aceh Working Group, 2005

No comments: