13 June 2007

GEMPA KUASAMU

sunyi pagi menjerat kami

tak tahu kedatanganmu seperti pencuri

merampas nyawa kami yang kini berharga murah

menggodam tubuh kami yang masih punya darah

membanjirkan sgala upaya menjadi uap nyawa

berbalutkan darah-darah pergi

meninggalkan tangis yang menjadi

ciri

keseharian kami

dalam putus asa

tiada rumah tinggal,

karna smua tlah kau remuk

tiada tempat mengais nasi

sbab smua tlah kau rampas

tiada sanak saudara

sbab smua tlah kamu bunuh

dengan dingin,

tanpa mata berkedip

jantung kami pun ambrol

kamu betot

ketika di utara merapi sedang mengamuk dan memuntahkan abu

ketika di timur antar kami sendiri saling gencar mencabut urat-urat yang

menyusun rangka kami

ketika di barat pemerintah dan wakil kami berkelahi saling jambak

memperebutkan rambut cita-cita kami yang telah brodol

menyisakan botak asa mengikuti pertikaian

anak negeri yang selalu mengikuti kata hati sendiri

untuk membenarkan diri



hingga dari selatan

kau ingatkan kami atas

tindak dan hati terkutuk kami

untuk menengok sesuatu yang mesti

kami

utamakan



kuasamu, sungguh lebih

dahsyat.



Yonathan Rahardjo/ Jakarta, Juni 2006

Buletin BINA DESA April-Juni 2006

No comments: