13 June 2007

DI SITU

Di situ...
Balita berselonjor kaki, tubuh tanpa kain penutup
di balai-balai bambu beratap rumbai daun kelapa

Bocah lelaki kecil lincah berlari bermain bola
di hamparan pasir putih nan cemerlang
Gadis pemudi, pemuda remaja berjemur
juga menceburkan tubuh terbakar matahari
di dingin air segar

Nelayan mengayuh perahu menjauh
tuk memikat makhluk terjerat jala kail
di hamparan riak air
Beraneka jenis, bentuk, warna-warni
makhluk itu menyelam, melayang, mengapung
bebas lepas

Sayang...
Manusia serakah memasang pukat harimau
menabur racun, merampas semua kekayaan tak terbatas
Bom-bom diledakkan,
Meremukkan terumbu karang

Perompak tertawa sampai perut terguncang
berhasil menyandera awak kapal
bertekuk lutut di ujung pedang, bedil, dan mata mendelik

Pemilik harta mengikat leher nelayan dengan
perjanjian hutang piutang berbunga besar dengan
alasan supaya nelayan mampu merakit perahu, membeli
motor

Pejabat sibuk merekayasa bagaimana pulau-pulau
kecil tak perpenghuni pindah status pemakaian ke tangan
panas berlumpur siasat mendongkrak devisa pembayar utang
negara

Di situ...
si nelayan miskin bertaruh hidup
si tengkulak menabur janji menuai sekarat nelayan
si pedagang berpesta uang ikan hias, terumbu karang
si pejabat mengeruk isi berdalih kesejahteraan

Di situ...
di pantai
si pantai sendiri makin merana kering
Terbakar terik panas surya siang
menggigil beku berbalut dingin hawa malam
terkikis gelegak samudera perkasa karna mangrovenya
telah tiada dan liat pantai menjadi kering rapuh berdebu
hingga si balita tak berbaju dan celana yang mestinya
merasakan sejuk semilir angin sepoi
justru malah keblingsatan kepanasan.


Yonathan Rahardjo/ Jakarta, 24 Juli 2000
Kabar Bumi Edisi 19/ Juni-Agustus 2000

No comments: